17 september 2003

Bisakah orang membeli senyum? Tadi aku jalan-jalan ke WTC, Jakarta. Wah orangnya beda banget dengan yang biasa aku temui di kampus. Jalan dengan hp ditangan atau sambil berbicara, wajah-wajah serius yang hanya sekali melayangkan pandangan melihat ke arah mobil jemputan. Mungkin bagi mereka benar-benar berlaku pepatah time is money. Benar-benar sebuah dunia baru.

Mungkin cerita dan pemandangan orang-orang seperti itu benar-benar seperti kisah film yang biasa hanya aku temui lewat layar kaca. Atau seperti cerita sains fiksi yang suka menggambarkan masa depan dengan sangat menakjubkan, mungkin suatu saat kisah mereka menjadi kenyataan. Walaupun dalam film Space Odessy(?), kisah itu tidak menjadi kenyataan setidaknya penjelajahan ruang angkasa sudah sangat maju.

Mungkin diluar sana ada sebuah kehidupan lain, tapi lucunya semua cerita yang menggambarkan kehidupan luar angkasa selalu mengembalikan kehidupan luar seperti manusia. Selalu ada makhluk jahat dan baik, bahkan bentuknya juga mirip dengan manusia, punya struktur kepala, kaki, badan dan tangan. Mungkin kalau tidak seperti itu kisahnya tidak akan menarik bagi manusia.

Jadi orang-orang yang berwajah dingin itu-kecuali bagian penerima tamu yang bisa menghadirkan senyum jika ditanya orang tapi kemudian kembali kaku- sama seperti makhluk dari planet lain, soalnya pola hidup mereka sangat asing. Hipi... aku udah ketemu makhluk ruang angkasa.

12 september 2003

Mungkin ngga ya orang hidup dalam dunia buku? Kenapa kalau orang melihat berita di stasiun TV dia pikir apa yang dilihatnya nyata, sedangkan kalau baca buku cerita dia hanya berpikir itu hanya fiksi belaka? Seperti pelajaran kuliah, ngga jelas banget makhluknya apa, semuanya harus didefinisi ulang. Pandang, misal, ambil bilangan ini, itu dkk. Wah, asli ngga kebayang. Herannya sifat-sifat ajaib itu muncul dalam alam semesta, atom dll.

Kadang aku berpikir bahwa aku lebih banyak hidup dalam dunia abstrak. Aku senang mencari-cari sifat yang bisa didefinisikan, misalnya himpunan orang ini memiliki karakteristik tertentu, terus mulai dibuat modelnya. Wah, lama-lama bisa jadi teorema baru. Tapi ketika aku ngambil kuliah kontrol linier, dosennya juga bilang seperti itu, mulai dari politik, kecepatan dll. Mungkin manusia juga bisa dimodelkan.

Ada teman yang bilang, suatu saat kita akan dijajah mesin. Sepertinya tidak mungkin sekali, kesadaran kan hak istimewa manusia. Yang paling mungkin juga robot yang mengambil tindakannnya dari hasil statistik. Walaupun ia menolak untuk patuh pada manusia penyebabnya kan dari data statistik bukan keinginan sadar. Tapi aku jadi berpikir ulang, kalau aku melakukan sesuatu itu karena disebabkan oleh lingkungan memiliki kecenderungan kesana, atau akibat pengaruh sadarku ya?

Mungkin itu yang disebut manusia yang semakin mirip robot. Lama-lama semua orang bisa dimodelkan, setidaknya kontrol itu dipegang oleh undang-undang, trus input manusia yang acak kadut, outputnya robot. Hi.. seram

He..he.. baru pertama ada yang bilang aku matematikawan. Kira-kira definisinya apa ya?

  1. Orang yang mengambil jurusan matematika
  2. Orang yang suka dengan matematika
  3. Orang yang jago matematika.

Kayanya aku ngambil pilihan pertama deh, secara agak sengaja aku terdampar di matematika, soalnya ngga tembus di elektro. Makanya kadang-kadang suka cari buku 'ajaib' yang bisa membuat aku betah dan paham akan apa yang aku pelajari.

Waktu baca buku Alice, aku berpikir bahwa ini buku yang dikarang oleh seorang tokoh matematika. Tapi dari perkenalannya, buku Alice benar-benar dibuat untuk anak-anak. Terlepas dari bahasanya yang bikin bingung, jadi ya aku membaca seperti membaca buku cerita lainnya. Mungkin ngga seseorang bisa memisah-misahkan kepribadiannya? Misalnya ketika seorang ilmuwan mengarang buku anak-anak, bisakah segala kesadarannya sebagai ilmuwan lenyap dan digantikan oleh sebuah individu yang sepenuhnya terpisah? Pasti mustahil, jadi beritu pula ketika membaca buku Alice, banyak logika yang turut terbawa.

Bahkan dalam pendahuluan juga disebutkan bahwa buku ini mungkin punya banyak penafsiran. Membaca buku itu aku lebih tertarik memikirkan bagaimana karakteristik orang matematik. Intinya aku lagi membedah diri sendiri, apakah aku akan bisa berpikiran secara abstrak atau masih harus bertumpu pada bidang riil. Seperti kasus penjumlahan, disebuah rumah susun angka 13 diyakini sebagai angka sial, sehingga gedung terdiri dari lantai 1,2,...,12,14,15. Nah seorang yang berada dilantai 11 jika naik 3 lantai ia akan berada di lantai 15. Wah kalau dimasukkan dalam penjumlahan jadi salah, walaupun ada secara riil kasus tersebut ada. Jadi seharusnya segala sesuatu didefinisikan terlebih dahulu.

Seperti pelajaran kompleks yang lagi aku dapat, penjumlahan, perkalian didefinisi ulang. Wah, aku jadi balik lagi ke SD. Aku jadi mikir matematika itu seperti seni, setidaknya sama-sama abstrak, walaupun ada prinsip dasar yang sangat beda. Seni abstrak dalam bentuk jadinya sedangkan matematika abstarak dari segi ide. Benar ngga?

BTW, untung juga waktu itu ada rapat, soalnya aku lagi flu berat, bisa-bisa ketularan. Gara-gara bela-belain ke kampus untuk melihat planet Mars. Ternyata banyak juga yang datang, wah promosi media masa berhasil sekali dalam menciptakan animo masyarakat. Termasuk aku, walaupun akhirnya agak kecewa karena planetnya ngga jelas.