Bisakah orang membeli senyum? Tadi aku jalan-jalan ke WTC, Jakarta. Wah orangnya beda banget dengan yang biasa aku temui di kampus. Jalan dengan hp ditangan atau sambil berbicara, wajah-wajah serius yang hanya sekali melayangkan pandangan melihat ke arah mobil jemputan. Mungkin bagi mereka benar-benar berlaku pepatah time is money. Benar-benar sebuah dunia baru.
Mungkin cerita dan pemandangan orang-orang seperti itu benar-benar seperti kisah film yang biasa hanya aku temui lewat layar kaca. Atau seperti cerita sains fiksi yang suka menggambarkan masa depan dengan sangat menakjubkan, mungkin suatu saat kisah mereka menjadi kenyataan. Walaupun dalam film Space Odessy(?), kisah itu tidak menjadi kenyataan setidaknya penjelajahan ruang angkasa sudah sangat maju.
Mungkin diluar sana ada sebuah kehidupan lain, tapi lucunya semua cerita yang menggambarkan kehidupan luar angkasa selalu mengembalikan kehidupan luar seperti manusia. Selalu ada makhluk jahat dan baik, bahkan bentuknya juga mirip dengan manusia, punya struktur kepala, kaki, badan dan tangan. Mungkin kalau tidak seperti itu kisahnya tidak akan menarik bagi manusia.
Jadi orang-orang yang berwajah dingin itu-kecuali bagian penerima tamu yang bisa menghadirkan senyum jika ditanya orang tapi kemudian kembali kaku- sama seperti makhluk dari planet lain, soalnya pola hidup mereka sangat asing. Hipi... aku udah ketemu makhluk ruang angkasa.
