27 märts 2003

13 Maret:

Senang deh baca catatan masa SMA, bacanya bisa ketawa-tawa sendiri, ada foto-foto dan surat segala. Wah, kocak banget. Sampai heran sendiri kenapa waktu SMA bisa sekonyol itu. Tapi grafiknya parah, waktu kelas dua bahasannya penuh dengan kondisi bangsa eh kelas tiga malah diisi dengan cinta monyet. he..he.. lumayan buat hiburan.

Sepertinya aku memang butuh banyak hiburan. Abis lihat acara di TV tentng perang terus,kenapa ada orang mau milih perang sedangkan ada pilihan damai. Apalagi kehidupan serba tidak pasti yang mengurangi tingkat pendidikan. Bagaimana cara mereka mengukir masa depan ya?

Hmm.. mending fokus dulu ke kehidupan sendiri. Jadi seperti Narcisus deh, yang selalu memandangi dirinya di danau. Yah, aku mau bercermin dulu deh ke danau...

6 Maret:

Wah kemarin aku ada acara bertemu adik kelas SMU, mengenai pengarahan tentang jurusan matematika. Hiks ;< tidak ada yang berminat. Kenapa ya? apakah math terlalu menyeramkan. Malah ada pertanyaan standar, di jurusan matematika kerjannya bikin rumus ya? Wah, gawat juga nih kalau pendapat seperti ini berkembang. tapi aku jadi semangat untuk meneliti diri seniri, tipe orang seperti apakah yng cocok masuk ke math dan menjdi matematikawn sejati? Hmm.. kayanya aku mau membuat percobaan.

28 Februari:

wah seneng rasanya bisa internet bebas lagi, kemarin jaringannya rusak, makanya balik ke rumah ;p biar bisa free...

Hari ini aku dapat gaji pertama, he..he.. dari kerja bikin jurnal. Judulnya sih beasiswa kerja, tapi rasanya keren juga pakai tandatangan segala. Lumayanlah sebagai sampingan kuliah yang monoton. Tapi ada pelajaran yang menarik, pelajaran etika bisnis tapi ngga pakai buku, isi kuliahnya cuma diskusi interaktif saja. Tadi baca koran di 'PR' tentang HAM, pokoknya ada yang tidak setuju karena HAM asalnya dari kapitalis. Wah, kalau aku pikir sih asalkan tidak bertentangan ya tidak masalah. Seperti dosenku yang non-islam tapi bisa mencerahkan. Sama halnya seperti orang-orang yang tidak setuju dengan Bucailisme karena takut akan dampaknya, selama hal itu bisa mencerahkan dan menjadikan seseorang bertambah keimanannya kenapa tidak?

Hmm.. terlalu berat, ganti topik. Kemarin aku ikut diskusi puisi. Kenapa ya orang bisa membuat puisi. Aduh, untuk yang satu ini aku angkat tangan deh. Dulu sih senang, walaupun isisnya tidak karuan. Tapi kalau sekarang disuruh bikin puisi, minta ampun deh. walau begitu aku tetap kagum sama keindahan bunyi dan makna yang terkandung, rasanya dalam sekali. kalau aku lebih senang membuat cerita dengan kalimat yang panjang. Tapi kalau mau membuat cerita seringnya mandek ditengah jalan, jadi lebih sering seperti nulis buku harian, atau koar-koar di milis.

Aku punya teman anak seni, wuih gambarnya bagus banget. Senang deh melihat kerjaan mereka, apalagi melihat dandanan mereka yang nyentrik. makanya kalau ada kuliah bareng dengan anak seni, seperti masuk ke dunia lain. ;p