14 veebruar 2003

Akhirnya aku ikut demo, eh aksi. Aku sering mikir kalau sekarang sudah bukan zamannya lagi, apalagi sering bikin jalanan macet. Tapi sejak SMA aku ingin merasakan teriak-teriak di jalan, ya lebih banyak terdorong rasa ingin tahu sih. Ternyata asyik juga, ngerti sedikit sih tujuannya untuk apa, tapi tidak begitu berpengaruh, soalnya niatnya hanya buat memuaskan rasa ingin tahu. Kan lumayan kalau ditanya sudah pernah ikut aksi belom? aku bisa jawab sudah.

Wah alasan ini rada tidak ilmiah, tapi tidak apa-apa. Bukankah ilmuwan harus penuh rasa ingin tahu (he..he.. pembenaran). Jadi kalau dikaitkan dengan matematika ya nyambung juga sedikit. Malah dosenku cerita, etika bisa dikembangkan dari math, lebih parah lagi Phytagoras yang bilang matematika adalah agama, he..he.. aku sih senang aja membaca pemikiran mereka yang aneh2.

Kalau baca cerita para penemu, sepertinya cerdas itu sudah sebuah pemberian. Soalnya umur mereka saat menemukan sesuatu masih muda banget, tapi ya semua ada jalannya masing-masing. Aku suka cerita Feynman, sepertinya orangnya kocak dan sangat terbuka. Apalagi dia bisa membedakan lukisan asli dan palsu, benar2 multi-bidang. Nah, sekalian saja aku mau jadi pengarang, kali aja nyambung.

Aku juga sering nulis pakai musik, tapi paling ngga enak kalau tiba-tiba ingin nulis tengah malam, daripada idenya hilang tiba2, terpaksa deh lembur. Ide itu datang darimana ya? aku pernah mimpi mengerjakan soal, eh waktu bangun aku langsung ambil kertas dan pinsil, eh berhasil. Hmm... bagaimana caranya ya agar aku bisa sekalian belajar sambil tidur, kan asyik sambungin informasi yang ada di buku dengan kepala, trus pagi-pagi ratusan halaman sudah dapat tercerna di otak.

04 veebruar 2003

Kemarin-kemarin ini aku banyak bergaul dengan orang-orang sastra. Ngga tepat dikatakan bergaul, tetapi ikut dengan forum yang mereka adakan. Yang aku salut sama mereka adalah terbuka atas kritik. Kamis lalu ada satu cerpen yang dikritik secara terbuka dan ada pengarangnya diruangan yang sama. Wah acung jempol deh. Terus minggu kemarin aku juga ikut diskusi sastra, wah judulnya bikin seram, tapi suasananya santai bersama Fira Basuki, pengarang trilogi jendela2, pintu dan atap. Ternyata aku melihat dunia lain yang selama ini hanya ada dalam benak saja.

Kemarin sempat takut juga, jangan-jangan kuliah ketinggalan gara-gara lebih asyik didunia khayal. Makanya aku lagi nyari buku math yang enak untuk dibaca. Waktu mau nyari buku 'Math: the birth of number', malah nemu buku lucu diperpus jurusan. Sayang ngga boleh dipinjam lama-lama, atau aku kopi saja ya? Tapi ngga enak soalnya banyak cap perpustakaanya. Sebenarnya copy itu merugikan atau menguntungkan ya? Hitung2 aku memakmurkan usaha fotocopy walaupun ada saja pihak yang dirugikan. Tapi kan aku niatnya untuk mencari ilmu.

Lucu juga ya bicara di alam matematik, apalagi kalau melihat pemikiran Plato bahwa matematika adalah sebuah dunia yang independen, tapi aku tidak mau masuk daerah itu. Aku cukup berada di daerah praktis saja, seperti yang disebut dalam buku 'What is mathematics,really?' alam praktis dan filosofi berbeda bidang, walaupun sama-sama membicarakan matematik. Setidaknya aku sudah berhasil mengembalikan rasa sukaku pada math.

Kalau mau benar2 profesional mungkin lebih baik kalau tidak membaca banyak buku, tapi konsen kesuatu maslah, tapi mana tahan. Ada banyak hal menarik didunia ini yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Aku lagi senang-senangnya cerita nih.