Akhirnya aku ikut demo, eh aksi. Aku sering mikir kalau sekarang sudah bukan zamannya lagi, apalagi sering bikin jalanan macet. Tapi sejak SMA aku ingin merasakan teriak-teriak di jalan, ya lebih banyak terdorong rasa ingin tahu sih. Ternyata asyik juga, ngerti sedikit sih tujuannya untuk apa, tapi tidak begitu berpengaruh, soalnya niatnya hanya buat memuaskan rasa ingin tahu. Kan lumayan kalau ditanya sudah pernah ikut aksi belom? aku bisa jawab sudah.
Wah alasan ini rada tidak ilmiah, tapi tidak apa-apa. Bukankah ilmuwan harus penuh rasa ingin tahu (he..he.. pembenaran). Jadi kalau dikaitkan dengan matematika ya nyambung juga sedikit. Malah dosenku cerita, etika bisa dikembangkan dari math, lebih parah lagi Phytagoras yang bilang matematika adalah agama, he..he.. aku sih senang aja membaca pemikiran mereka yang aneh2.
Kalau baca cerita para penemu, sepertinya cerdas itu sudah sebuah pemberian. Soalnya umur mereka saat menemukan sesuatu masih muda banget, tapi ya semua ada jalannya masing-masing. Aku suka cerita Feynman, sepertinya orangnya kocak dan sangat terbuka. Apalagi dia bisa membedakan lukisan asli dan palsu, benar2 multi-bidang. Nah, sekalian saja aku mau jadi pengarang, kali aja nyambung.
Aku juga sering nulis pakai musik, tapi paling ngga enak kalau tiba-tiba ingin nulis tengah malam, daripada idenya hilang tiba2, terpaksa deh lembur. Ide itu datang darimana ya? aku pernah mimpi mengerjakan soal, eh waktu bangun aku langsung ambil kertas dan pinsil, eh berhasil. Hmm... bagaimana caranya ya agar aku bisa sekalian belajar sambil tidur, kan asyik sambungin informasi yang ada di buku dengan kepala, trus pagi-pagi ratusan halaman sudah dapat tercerna di otak.
