28 jaanuar 2003

27 Januari 2002

Kenapa ya belakangan ini aku malas banget nulis, padahal biasanya ide2 dengan mudah mengalir keluar. Mungkin aku lagi jenuh karena banyak kegiatan yang aku lakukan tidak sesuai dengan harapan. Apalagi aku senang berkhayal, tapi jadinya kerjaan tidak ada yang beres. Kalau mau dipikir secara rasional sepertinya aku dapat melakukan suatu hal dengan baik, tapi tetap saja hal itu tidak kulakukan. Aku sudah harus buat target buat kedepan, mungkin malah setiap jamnya harus dijadwal. Mungkin tidak orang tahan hidup terjadwal ketat seperti itu?

Tidak ada kejutan, semuanya teratur, mungkin aku harus mulai mencobanya. Kalau dipikir pasti akan bosan, tapi masuk akal dan harusnya sih hasilnya juga layak. Hanya saja manusia bisa bosan, ini dia yang tidak bisa diperhitungkan. Eh mungkin bisa juga sih, cuma ya nanti jadwalnya malah terlalu longgar.

Kalau begitu bikin target jangka panjang saja kali ya, biar ngga terlalu straight...

22 Januari 2003

Hari ini saya dapat mail dari seorang teman tentang artikel yang menyangkut bahasan yang biasa saya obrolkan di milist. Wah, ternyata tokoh khayalan yang saya gunakan lebih terkenal dari nama asli. Gawat juga ya, kalau kalah sama khayalan sendiri ;p Tapi mungkin dengan nama samaran saya jadi lebih bebas menulis. Jadi ingat kisah di Cerdas Jenaka Feynman, ketika ia berhadapan dengan Bohr, dengan lantang ia mengungkapkan pendapatnya didasari kecintaannya pada fisika, mungkin begitu juga dengan nama samaran saya gunakan membuat saya bebas berekspresi.

Senang juga punya hiburan disamping kegiatan rutin. Saya sengaja menggunakan nama samaran untuk bahasan2 sosial dan nama asli yang berkaitan langsung dengan pendidikan formal. Sebenarnya sama saja,sama2 keluar dari pikiran, tapi kalau pakai nama samaran kayanya lebih asyik. Malahan saya sudah menyiapkan sebuah biodata palsu untuk tokoh rekaan itu.

Sekarang malah nyambung ke cerita "Lord of the ring" dalam adegan perjalanan Frodo dan Sam, mereka berkhayal bahwa kisah mereka akan menjadi sebuah legenda. Nah dengan tokoh rekaan ini, mungkin suatu hari tokoh ini akan menjadi sosok nyata(wah kalau ini sih kaya cerita Dunia Sophie). Saya jadi senang nonton film, bosan kali melihat berita di TV yang isinya tidak banyak berubah.

2 Januari 2003

Menyambung catatan yang usang..

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tigaribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.(Goethe)

Sepertinya aku lagi terperangkap dalam ungkapan itu, sekarang ini aku ada di akal 3000 tahun itu. Apa yang aku lakukan adalah hasil dari evolusi dan revolusi puluhan bahkan jutaan tahun silam. Tepatnya sku lagi berusaha memahami Pascal. Aduh bingung, biasanya setiap kali aku ada maslah ada internet atau buku yang dapat membantu, tapi kalau disuruh membuat pogram tidak ada landasan yang pasti, yang ada hanyalah pengalaman, otak dan komputer.

Jadi ingat diskusi dengan teman2 tentang mesin yang berkesadaran, jangankan berkesadaran yang masih belum terconnect dengan jaringan saja sudah bisa membuat kepala pusing. Jadi kalau ada yang bilang bahwa suatu saat mesin akan menguasai mesin, saat ini sih ungkapan itu sudah berlaku padaku setidaknya secara mental.

Wah kalau aku melihatnya dengan kacamata seperti itu bisa2 programku tidak jalan2 nih, gawat juga ya. Ya sudah aku mau baikan dulu dengan komputerku.

c u next time..

27 Desember 2002

Aku lagi bingung tentang subjektiv dan objektiv. Kalau mengeluarkan pandangan pasti kita menjadi subjektiv(didukung oleh metode ilmiah sekalipun) tapi keobjektivan itu akan kembali menjadi subjektiv karena telah mendapat sentuhan pemikiran. Tapi yang lebih membingungkan lagi ternyata untuk menjadi subjektiv sejati pun sangat sulit, karena apapun yang kita lakukan pasti memikirkan apa yang ada di pikiran orang lain, entah itu bagus/jelek, diterima/tidak. Itu juga yang terjadi setiap kali aku nulis, pasti mikirin pendapat orang(zaman2 aku aktif ngikutin mali list).

Aku jadi senang bikin percobaan, kalau aku menciptakakan tokoh fiktif terus ada orang yang menanggapi tokoh itu, apakah dia telah berbicara dengan orang maya yang tidak keluar dari otaknya atau aku yang malah berinteraksi dengan tokohku sendiri. Lucu juga ya... internet memang memberikan tempat bebas identitas. Tapi ya aku tetap tanggungjawab, aku pikir disinilah letak tanggungjawab yang sebenarnya, tanpa ikatan sosial aku tetap konsisten menjaga peraturan artinya aku tanggungjawab langsung dengan sang Khalik, tapi ada juga yang alergi dengan nama samaran.

Kenapa ya kalau mau mengungkapkan sesuatu pasti terjebak dalam pemikiran orang lain. Apakah tulisan ini memang fantastis, atau ada hal yang tersembunyi didalamnya. wah, kalau seperti ini lama2 aku tidak bisa nulis lagi gawat... Makanya aku sekarang cenderung untuk mengekspresikan kesubjektivan saja, dan semoga aku tidak terperangkap kepada penilaian orang.

24 Desember 2002

Aku juga punya nama samaran yang penuh dengan identitas palsu. Senang juga sih tanpa identitas seperti itu. Kayanya nulis seperti itu bisa lebih bebas berekspresi. Biasalah beredar di milis nulis bisa pas sesuai dengan yang ada di hati, enaknya kalau ada diskusi yang rada kontroversial :) aman... Pakai bahasa yang rada canggih, biar kelihatan intelek sedikit.

Tapi kadang bosan juga soalnya, kalau bahsanya terlalu canggih, keperangkap lagi deh di atmosfer seperti itu dan akibatnya identitas yang sebenarnya ditujukan untuk membuka cakrawala menciptakan belenggu baru. Gawat juga ya..

Makanya senang punya teman ngobrol. Walaupun orangnya nyata, tapi karena kenalnya juga lewat internet, bakal jadi maya juga.

23 Desember 2002

Hari ini aku baru saja mudik, sebenarnya sih baru masuk liburan sesi pertama. Yang bikin aku senang adalah aku berhasil memecahkan penjara kubuat sendiri. Tidak tepat begitu, tapi lumayan mendekati. Soalnya aku balik kerumah cuma diberi petunjuk harus ngambil bus di jalan tertentu. Padahal ngga ada bayangan sebelumnya jalan itu seperti apa. jadi deh seperti petualangan mengarungi kota jakarta. Berbeda sekali orang yang baru pertama naik bus dengan orang yang sudah biasa. dan waktu nunggu bus, yang hanya lewat sekali sejam, aku seperti pasir di pantai. Orang lalu lalang tanpa ada yang dikenal.

Bahkan untuk bertanya pun ada banyak bayangan yang kadang membuat aku tidak bebas untuk bergerak. Tapi dalam keadaan seperti itu aku lebih memilih untuk banyak bertanya. Ternyata dalam keadaan terdesak(takut sendirian didaerah asing) aku mengabaikan mitos yang selama ini dibuat untuk memagariku yaitu jangan bertanya ke orang asing.

Keluar dari kebiasaan ternyata membutuhkan keberanian yang cukup besar. Dan pengetahuan tidak selamanya enak untuk digunakan. Pantas saja banyak orang yang diam akan keadaan yang menimpa mereka. Tidak heran kalau kadang perlu juga ada provokator untuk menyatakan bahwa kehidupan yang kita jalanin sekarang adalah salah.

Tapi melihat dalam ruangan sempit kadang enak juga, apalgi ketika sampai pada suatu titik ketika kita sudah merasa mapan. bayangin saja sekitar sebulan yang lalu aku mewawancarai seorang peminta2, dan dia merasa senang dengan kehidupannya. Mungkin itu malah bagus, walalupun bagiku itu salah besar. Akunya saja yang mungkin tidak realistis melihat kedaan sekarang. Seperti yang kulakukan dengan keluar dari dunia kecilku, dimana semua orang saling mengenal dan peduli.

Ternyata dunia luar masih banyak menyimpan cerita. Kadang itu cerita sedih, tapi setidaknya aku masih dapat mengambil sebuah kisah yang menarik dari kejadian itu. Dan senag rasanya bahwa hari ini aku sudah mulai membuka penghalang yang selama ini menutupi mataku, dan memakai kacamata yang berbeda.

19 Desember 2002

Wah ajaib nih, satu bulan ini saya ketemu orang2 yang sudah lama tidak saya dengar kabarnya, ada yang baru kontak lagi setelah dua tahun. Mungkin ini ada maksudnya kali ya?

Belakangan ini saya suka baca filsafat, jadi aja semua hal pasti dipikirin, tapi lama2 pusing juga ya, jadi sekarang balik lagi ke kehidupan normal. Bukan hidup tanpa mikir tapi setidaknya lebih baik ke action. Makanya pas baca salah satu tulisan di kun.co.ro tentang sufi dan rasul, wah kayanya cocok banget.

Kemarin saya baru saja selesai ujian, rasanya lega satu sesi udah selesai, sambung bulan januari, tapi saya sebel soalnya yang dipelajari sama yang keluar ngga nyambung. Mungkin karena di kelas ngga pernah merhatiin. Kadang saya mikir absen berfungsi hanya untuk kepentingan dosen, artinya kalau dosennya ngga enak, kelas bakal sepi. Tapi sekarang nyesel juga kenapa dulu ngga merhatiin.

Tapi ngga perlu nyesel, mungkin ini sebuah jalan yang udah ditakdirkan. Eh ngomong masalah takdir saya jadi rada bingung. Seperti kisah anak yang dibunuh oleh Nabi Khidir, apa takdirnya emang untuk dibunuh, atau kisah2 orang kafir di Qur'an, yang dicantumkan biar kita mendapat pelajaran, nasibnya jelek banget. Hi... jadi mikir yang aneh2.

Tapi jadi ingat kisah khlifah, yang bilang saya akan menolak takdir Allah menuju takdir yang lainnya. Daripada bingung, mending juga melakukan hal2 yang berguna. Belakangan ini di koran sering muncul masalah tasawuf, apa kecendrungan orang sudah bergeser ya? Mungkin juga sih, tapi jadi ingat juga perkiraan Huntington ke arah perang agama.

11 Mei 2002

Kemarin saya habis naik gunung, lumayan cari suasana baru buat menghadapi aktivitas sehari-hari. Ternyata naik gunung itu capai, bikin nafas mau habis, saat itu terpikir seandainya ada mobil atau bahkan helikopter yang bisa membawa saya langsung keatas. Tapi kesan dan kepuasannya pasti berbeda, dan kenikmatan itu saya rasakan ketika sudah sampai diatas. Kebayang kalau jalannya mendatar terus pasti akan terasa bosan, dan jalan datar pun akan jadi biasa. Tapi pas mendaki, disetiap kelokan pasti ada harapan, wah mungkin saat ini saya akan menemukan jalan mendatar. Walaupun terkadang benar dan banyak juga salah tebak. Membayangkan suatu saat jalannya akan mendatar adalah suatu keasyikkan tersendiri.

O iya saya juga sering terjebak oleh kesan. Baik itu kesan yang ingin saya tampilkan keorang atau kesan saya terhadap seseorang. Mungkin saya juga lagi ingin menampilkan kesan baik terhadap Anda sehingga mengurangi gaya bercerita saya. Tapi saya jadi mikir mungkin tidak seseorang bisa bebas dari kesan tersebut. Kalau dikelas pasti murid akan berusaha menampilkan kesan baik kepada guru yang mengajar didepan kelas, tapi mungkin dibaliknya ia akan berkata sebaliknya. Jadi jujur terhadap diri sendiri itu apa ya? saya masih bingung sama kata yang disebut munafik.